Kembali ke Daftar Berita
Kolaborasi Global di RESILIENCE 2025: Alam Jadi Kunci Ketahanan Iklim
Berita

Kolaborasi Global di RESILIENCE 2025: Alam Jadi Kunci Ketahanan Iklim

9 Juni 2025
Share:
Facebook Twitter LinkedIn

Ketika suhu global terus melonjak dan bencana ekologis kian intens, Indonesia menghadapi tekanan besar akibat krisis iklim dan ketimpangan pembangunan. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia masih kehilangan 1,8 juta hektar hutan setiap tahun. Tak hanya merusak keanekaragaman hayati, deforestasi ini juga menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang ditaksir mencapai Rp544 triliun per tahun (Bappenas, 2024).

Untuk menjawab tantangan tersebut, pendekatan Nature-based Solutions (NbS) dinilai sebagai strategi pemulihan yang menggabungkan manfaat ekologis dan kesejahteraan sosial. NbS mencakup berbagai upaya seperti restorasi hutan, konservasi lahan basah, serta tata kelola wilayah pesisir dan air berbasis ekosistem. Menurut laporan IPCC (2022), penerapan NbS secara optimal dapat menyerap hingga 7,6 miliar ton karbon per tahun secara global. Studi UNEP (2021) juga menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 40 persen dan menurunkan angka kemiskinan sebesar 25 persen.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan, Universitas Pertamina bersama Pertamina Foundation menggelar RESILIENCE 2025: The 3rd International Conference on Nature-based Solutions in Climate Change, Selasa (3/6/2025), di kampus Universitas Pertamina, Jakarta. Konferensi ini menghadirkan lebih dari 55 peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan pengalaman lintas sektor.

Corporate Secretary Pertamina, Brahmantya Satyamurti Poerwadi, menegaskan bahwa peran korporasi dalam transisi energi harus melampaui teknologi. “Pertamina menyadari tanggung jawab strategis kami dalam mendorong transisi energi, tidak hanya melalui inovasi teknologi, tetapi juga melalui kepemimpinan lingkungan dan sosial. Kami bangga mendukung riset dan inisiatif yang sejalan dengan strategi dekarbonisasi kami, dan terus berkomitmen berkontribusi pada target emisi nol bersih Indonesia tahun 2060,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konferensi ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, industri, dan masyarakat. “Saya berharap diskusi yang berlangsung dalam beberapa hari ke depan dapat melahirkan kolaborasi baru dan mendorong langkah nyata yang memberi manfaat bagi manusia dan planet ini," tambahnya

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi krisis iklim. “RESILIENCE menjadi wadah penting untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan gerakan masyarakat sipil. Kita perlu membangun narasi baru dalam menghadapi krisis yakni bahwa alam bukan hanya korban, tetapi juga solusi,” katanya.

Dalam sesi pembuka, Prof. Yuri Mansury, Ph.D., dari Illinois Institute of Technology, menyoroti bahwa perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan degradasi lingkungan merupakan hambatan utama pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ia menyebut bahwa dampak lingkungan telah mengurangi PDB Indonesia sebesar 1,59 persen pada 2021. Menurutnya, kapasitas adaptasi baik dalam aspek infrastruktur, ekonomi, sosial, maupun kelembagaan harus ditingkatkan secara menyeluruh.

Selain itu, Assoc. Prof. Agni Klintuni Boedhihartono dan Prof. Jeff Sayer menekankan pentingnya pendekatan transdisipliner dan kolaborasi berbasis konsep landscape sentinel. Model ini melibatkan akademisi, pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga lokal dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan.

“Konsep sentinel tidak hanya bicara soal konservasi, tetapi juga memperkuat jaringan sosial yang tangguh. Pelibatan masyarakat lokal menjadi syarat utama keberhasilan,” ungkap Prof. Agni.

Prof. Jeff menambahkan, “Masyarakat yang hidup paling dekat dengan kerusakan lingkungan justru paling berpotensi menjadi agen pemulihan. Mereka perlu diberi ruang, pengetahuan, dan kepercayaan dalam menyusun masa depan lingkungan mereka.”

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menyampaikan bahwa universitas berkomitmen menjadi garda depan dalam transisi menuju pembangunan berkelanjutan. “Kami terus mendukung riset lintas negara dan menerapkan kurikulum yang berbasis keberlanjutan, termasuk lewat program Magister Sains Berkelanjutan. Dunia butuh solusi, dan kampus harus menjadi bagian dari jawabannya,” katanya.